Perbedaan Infaq dan Shodaqoh

Kamis, 11 Juni 2020

Sebagai umat muslim, pastinya Anda tidak akan asing lagi dengan istilah infaq dan shodaqoh. Kedua amalan tersebut memiliki banyak persamaan, oleh karena itulah mengapa terkadang orang menganggap kedua amalan tersebut adalah sama. Padahal antara infaq dan shodaqoh memiliki perbedaan yang mendasar meskipun keduanya sama-sama dihukumi sunnah.

Perbedaan Infaq dan Shodaqoh

Pengertian Infaq

Dalam Islam, kita dianjurkan menyisihkan sebagian rejeki yang didapatkan untuk orang yang membutuhkan. Salah satunya dengan cara infaq online yaitu membelanjakan sebagian pendapatan atau harta sesuai dengan tuntunan Islam. Kita dapat berinfaq untuk korban bencana alam, fakir miskin, anak yatim, dan lain sebagainya.

Jika dalam zakat terdapat 8 asnaf atau golongan yang berhak menerimanya, namun berbeda dengan infaq. Anda dapat menginfaqkan harta kepada siapapun terlepas dari 8 asnaf tersebut. Infaq disunnahkan bagi mereka yang berpendapatan rendah maupun tinggi baik disaat sempit maupun lapang. Sedangkan orang yang berinfaq di jalan Allah disebut dengan munfiq.

Pengertian Shodaqoh

Makna shodaqoh memiliki ruang lingkup yang lebih luas dibandingkan dengan infaq. Arti shodaqoh menurut UU RI  No. 23 Tahun 2011 yaitu harta atau bukan harta yang diberikan oleh Badan Usaha atau seseorang di luar zakat online untuk kepentingan orang banyak. Jadi, sekecil apapun kebaikan yang Anda lakukan sudah bernilai shodaqoh di hadapan Allah.

Bahkan, kata-kata yang baik dan senyum tulus ikhlas pun juga termasuk dalam shodaqoh. Berbuat baik serta memberikan kebahagiaan untuk orang lain pun juga merupakan shodaqoh. Jadi, shodaqoh secara umum diartikan sebagai semua kebaikan yang dilakukan untuk mengharapkan ridho Allah Ta’ala. Sedangkan orang yang melakukan shodaqoh di jalan Allah disebut dengan mutashaddiq.

Perbedaan Infaq dan Shodaqoh

Salah satu perbedaan mendasar antara infaq dan shodaqoh terletak pada bentuk atau wujud pemberiannya. Jika infaq hanya terbatas pada harta yang dibelanjakan di jalan Allah, sedangkan shodaqoh memiliki cakupan yang lebih luas. Jadi, shodaqoh bukan hanya terbatas pada pemberian harta saja, melainkan pemberian non harta yang dilakukan di jalan Allah.

Wujud infaq dapat berupa tanah, bahan pokok, uang, peralatan dapur, dan berbagai hal yang berwujud bendawi. Sedangkan shodaqoh tidak hanya terikat pada bendawi saja, namun senyuman, saran, kasih sayang, ucapan maaf, sapaan ramah, pujian, ucapan terima kasih, pertolongan, dan ucapan salam pun bernilai sebagai shodaqoh.

Hal ini sesuai dengan hadits nabi yang berbunyi “Kullu ma’rufin shodaqoh”, yang memiliki arti yaitu setiap kebaikan adalah shodaqoh. Jadi, shodaqoh memiliki ruang lingkup yang lebih luas dan dapat dilakukan baik bagi mereka yang tidak memiliki harta sekalipun. Bahkan kalimat takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil pun juga termasuk dalam shodaqoh.

Hukum Infaq dan Shodaqoh

Banyak cara yang dapat Anda lakukan untuk membersihkan harta yaitu dengan infaq, shodaqoh, ataupun zakat. Dalam zakat, terdapat nisab dan waktu tertentu untuk mengeluarkannya. Berbeda dengan infaq dan shodaqoh yang tidak dibatasi oleh takaran dan waktu. Sebagai salah satu rukun Islam, zakat dihukumi wajib terlebih lagi bagi mereka yang telah memenuhi syarat.

Sedangkan untuk infaq dan shodaqoh hukumnya adalah sunnah dan dapat diberikan kepada siapapun. Sebagai amalan sunnah, kita akan mendapatkkan pahala jika melakukannya, namun tidak akan berdosa jika meninggalkannya. Tapi terlepas dari itu semua, alangkah baiknya jika amalan ini tetap dilakukan karena memiliki banyak sekali keutamaan.

Keutamaan Infaq dan Shodaqoh

Banyak keutamaan yang akan Anda dapatkan dengan berinfaq dan bershodaqoh, diantaranya yaitu :

  • Dengan berinfaq dan shodaqoh, maka Allah akan melipatgandakan pahala kita
  • Memiliki atau merasakan hati yang tenang, lapang, dan bahagia
  • Mendapat rahmat dari Allah
  • Menyempurnakan rangkaian ibadah
  • Menghapus dosa-dosa  karena shodaqoh bagaikan air yang mampu memadamkan api
  • Mendapat syafaat di hari akhir
  • Dapat membebaskan dari siksa kubur
  • Menambah keberkahan harta
  • Disediakan pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bershodaqoh dan berinfaq
  • Menjauhkan diri dari api neraka

Perhitungan Infaq

Pada dasarnya hukum infaq sama dengan shodaqoh yaitu sunnah. Meskipun demikian, alangkah baiknya jika Anda menyisihkan sebagian pendapatan yang diperoleh dengan berinfaq. Anda dapat menginfaqkan pendapatan tersebut baik tiap bulan maupun tiap tahun sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Terdapat dua cara perhitungan infaq profesi menurut ulama Yusuf Qardhawi, yaitu :

1.      Secara Langsung

Untuk cara yang pertama yaitu berinfaq sebesar 2.5% dari perhitungan bruto atau kotor secara langsung. Cara ini lebih adil dan tepat bagi mereka yang berpenghasilan tinggi. Sedangkan pembayarannya dapat dilakukan tiap tahun atau tiap bulan sesuai dengan keinginan  munfiq.

2.      Setelah Dipotong Kebutuhan Pokok

Sedangkan cara perhitungan yang kedua ini lebih adil dan tepat diterapkan bagi mereka yang memiliki pendapatan rendah atau pas-pasan. Infaq dihitung sebesar 2.5% dari gaji yang diperoleh sesudah dipotong untuk memenuhi kebutuhan pokok. Dengan demikian, kebutuhan bulanan masih dapat terpenuhi karena potongannya tidak terlalu besar.

Anjuran untuk Infaq dan Shodaqoh

Islam merupakan agama yang sempurna, hingga hak bagi kaum dhuafa pun juga diatur di dalamnya. Sebagai hamba Allah yang memiliki kelapangan rejeki, alangkah baiknya jika kita menyisihkan sebagian harta untuk orang yang memang membutuhkan. Banyak hadits dan ayat Al quran yang menganjurkan kita untuk berinfaq dan bershodaqoh di jalan Allah, diantaranya yaitu :

  • Dalam Surat Al Baqarah ayat 195, Allah berfirman, “Dan belanjakanlah atau infaqkanlah harta benda yang kamu miliki di jalan Allah.”
  • Dalam Surat Ath-Thalaq ayat 7, Allah berfirman,

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Serta orang yang rejekinya sempit seharusnya memberikan nafkah dari harta yang telah diberikan Allah. Sesungguhnya Allah tidak memberikan beban melainkan sesuai dengan kemampuannya dan akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.”

  • Berdasarkan hadits riwayat At-Tirmidzi, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kelak pada hari akhir, setiap kaki anak Adam tidak akan berpindah dari hadapan Allah sebelum ditanya mengenai 5 hal, yaitu untuk apa umurnya dihabiskan, untuk apa masa mudanya dilewatkan, darimana harta kekayaan yang diperoleh, ia infaqkan kemana, dan untuk apa ilmunya.”
  • Dalam Surah Al Baqarah ayat 245, Allah berfirman, “Barang siapa yang memberikan pinjaman yang baik di jalan Allah, maka Allah akan melipatgandakan pinjaman tersebut menjadi lebih banyak.”
  • Dalam Surah Al Baqarah ayat 254, Allah berfirman, “Hai orang-orang mukmin, belanjakanlah rejeki yang Kami berikan kepadamu di jalan Allah sebelum datang hari dimana tidak lagi ada syafaat dan tidak ada lagi juall beli.”
  • Dalam Surah Al Baqarah ayaat 263, Allah berfirman, “Kata-kata yang baik dan pemberian maaf jauh lebiih baik daripada shodaqoh yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan penerimanya. Sesungguhnya Allah Maha penyantun lagi Maha Kaya.”
  • Dalam Surah Al Baqarah ayat 261, Allah berfirman, “Nafkah yang dikeluarkan oleh orang yang berinfaq di jalan Allah seumpama sebutir benih yang mampu menumbuhkan tujuh bulir dan pada tiap bulirnya berisi seratus biji. Allah akan melipatgandakan pahala bagi siapun yang dikendakiNya karena Allah Maha Mengetahui lagi Maha Luas KaruniaNya.”

Setelah mengetahui perbedaan antara infaq dan shodaqoh, pasti Anda tidak akan merasa bingung lagi membedakan apakah amal yang telah Anda lakukan termasuk infaq atau shodaqoh. Pada dasarnya, infaq hanya terbatas pada segala hal yang bersifat bendawi, namun shodaqoh memiliki cakupan yang lebih luas yaitu segala perbuatan yang bersifat baik.